Setelah industri udang global sempat diguncang oleh AHPND atau sebelumnya disebut early mortality syndrome (EMS), kini muncul lagi penyakit baru yang bahkan menyerang udang lebih dini lagi. Penyakit tersebut dikenal sebagai Translucent Post-Larva Disease (TPD), sebuah penyakit bakteri yang menargetkan udang pada fase paling rentan dalam siklus hidupnya, yakni stadia benur post-larvae (PL).
TPD pertama kali dilaporkan di Tiongkok pada awal 2020-an dan kini mulai terdeteksi di sejumlah negara produsen udang utama di Asia. Berbeda dengan AHPND yang umumnya menyerang udang pada fase pembesaran awal, TPD dapat menginfeksi udang sejak PL 4–7, bahkan sebelum benur ditebar ke tambak.
Dalam sebuah laporan di All Fish News, dijelaskan bahwa TPD dinamai berdasarkan gejala visual yang sangat khas. Udang yang terinfeksi menunjukkan perubahan warna tubuh menjadi transparan, menyerupai kaca, mulai dari bagian kepala hingga segmen abdomen.
Yang membuat TPD sangat berbahaya adalah kecepatan serangannya. Dalam banyak kasus, kematian massal dapat terjadi hanya dalam waktu tiga hari sejak infeksi awal, dengan tingkat mortalitas mencapai 90–100% jika kondisinya parah.
Penyebab dan Karakteristik Penyakit
Artikel tersebut menyatakan bahwa TPD disebabkan oleh bakteri Vibrio parahaemolyticus yang mempunyai tingkat virulensi tinggi, yang dikenal sebagai VpTPD. Bakteri ini membawa plasmid khusus yang mengode protein virulensi bernama vhvp-2 dan menghasilkan toksin berbahaya seperti SpvB dan TcdB. Toksin inilah yang merusak jaringan udang pada fase PL.
Secara klinis, udang yang terinfeksi menunjukkan nafsu makan menurun, usus kosong, dan hepatopankreas yang tampak pucat. Pemeriksaan histopatologi memperlihatkan kerusakan jaringan hepatopankreas yang berkembang sangat cepat, mulai dari nekrosis ringan hingga pengelupasan sel epitel secara masif.
Tantangan Diagnosis dan Pencegahan
Salah satu tantangan terbesar dalam penanganan TPD adalah kesulitan diagnosis. Pada fase awal, gejalanya sering menyerupai AHPND, namun hasil uji PCR biasanya negatif terhadap patogen AHPND. Mutasi genetik pada bakteri Vibrio juga dapat menyebabkan kegagalan deteksi jika metode diagnostik tidak diperbarui.
Hingga saat ini, belum tersedia pengobatan spesifik untuk TPD. Oleh karena itu, pencegahan menjadi satu-satunya strategi utama. Pencegahan ini bisa dilakukan di berbagai level produksi yang dimulai sejak dari benur di hatchery. Antara lain melalui pemilihan indukan berkualitas, benur yang sehat, nutrisi seimbang, serta penerapan biosekuriti ketat.
Pemilihan hatchery terpercaya, pemeriksaan kesehatan PL menggunakan metode diagnostik akurat seperti PCR, sampling yang memadai, serta penggunaan pakan berkualitas tinggi menjadi langkah krusial untuk meminimalkan risiko. Meski belum dilaporkan secara resmi di Indonesia, penyebaran TPD di beberapa negara Asia menjadi peringatan penting bagi seluruh pelaku industri.
Gunakan Benur NP Sebagai Alternatif
Karena penyakit TPD menyerang lebih dini pada fase PL, petambak udang di lapangan juga dapat menyiasati penyakit ini dengan penggunaan benur besar atau benur NP (nursery pond). Benur NP memiliki potensi besar mencegah TPD di tambak karena telah melewati fase PL yang kritis. Fase PL benur NP dibudidayakan di lingkungan yang sangat terkontrol dan didukung dengan pemberian nutrisi yang sesuai kebutuhan PL.
Sebagai perusahaan udang terintegrasi, Sakti Biru Indonesia (SBI) telah mengembangkan benur NP untuk menyiasati tantantangan terbaru yang dihadapi para petambak di lapangan. Selain lebih adaptif di tambak karena telah melewati fase PL kritis, benur NP juga bisa memangkas waktu produksi setiap siklusnya. Sehingga siklus produksi dalam satu tahun bisa menjadi lebih banyak.
Untuk informasi lebih lanjut tentang Benur NP Sakti Biru Indonesia, hubungi tim SBI melalui WhatsApp +62 819 1212 5758 atau melalui email saktibiruindonesia@gmail.com
