Optimalkan Nutrisi Pakan untuk Kesehatan “Udang, Profit, dan Lingkungan”

Kestabilan dan kecernaan pakan menentukan efisiensi pemberian pakan yang bisa turut menekan biaya produksi.

by Sakti Biru Indonesia • Published on January 5, 2026

Dalam sistem tambak yang terbuka sebagaimana umumnya digunakan di Indonesia, perubahan cuaca dan musim menjadi faktor yang berpengaruh besar terhadap performa tambak. Pada musim hujan misalnya, curah hujan yang tinggi menyebabkan masuknya air tawar ke kolam dan penurunan suhu yang bisa mencapai beberapa derajat dalam waktu singkat. Kondisi tersebut bisa memicu stres osmotik, menurunkan nafsu makan udang, dan melemahkan ketahanannya. 

Sebaliknya, pada musim kemarau, peningkatan salinitas, suhu, serta penumpukan bahan organik juga menjadi sumber tekanan tersendiri. Kedua kondisi ekstrem ini sama-sama dapat menurunkan performa pertumbuhan dan meningkatkan risiko penyakit.

Di saat bersamaan, petambak di Indonesia juga menghadapi tekanan dari aspek ekonomi dan bisnis. Harga udang ukuran besar mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir, sehingga banyak produsen beralih ke segmen pasar yang lebih besar dengan panen ukuran lebih kecil. Selain itu, biaya operasional yang terus naik membuat margin usaha semakin tipis. Jika ditambah dengan ancaman penyakit seperti white spot, EHP, dan WFD, maka tantangan budidaya terasa semakin kompleks.

Pakan Stabil dan Mudah Dicerna

David A. H. Sutter dari CJ Feed and Care pernah menyampaikan di acara Shrimp Aquaculture Conference 2025 bahwa di tengah tantangan lingkungan dan ekonomi di atas, salah satu solusi yang paling berdampak adalah memastikan pakan memiliki stabilitas, kecernaan, dan keseimbangan nutrisi yang optimal. Kestabilan dan kecernaan pakan menentukan efisiensi pemberian pakan yang bisa turut menekan biaya produksi. Disamping itu, pakan stabil juga bisa mengurangi pakan yang belum termakan cepat larut dan “mengotori” kolam. 

Pada pakan yang kurang stabil, fosfor, nitrogen, dan karbohidrat mudah terlarut dalam air sebelum dikonsumsi. Selain menurunkan efisiensi pakan, kondisi ini menyebabkan beban nutrien berlebih di kolam sehingga mendorong pertumbuhan alga dan bakteri yang sulit dikendalikan. Jika dibiarkan, kolam dapat bergerak menuju kondisi eutrofik, yang ditandai dengan zona anaerob besar dan kualitas air yang buruk.

Fosfor menjadi salah satu fokus utama dalam formulasi pakan modern. Sumber fosfor dari bahan hewani, nabati, maupun mineral harus diatur sedemikian rupa agar sesuai kebutuhan udang. Kekurangan fosfor akan menurunkan pertumbuhan dan meningkatkan FCR, sedangkan kelebihan fosfor tidak dimanfaatkan tubuh udang dan justru terbuang ke lingkungan. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa ketika pasokan fosfor dioptimalkan, FCR dapat membaik secara signifikan dan pertumbuhan meningkat tajam.

Protein dan asam amino juga tidak kalah penting. Udang membutuhkan keseimbangan asam amino esensial yang tepat, bukan sekadar kadar protein tinggi. Kekurangan salah satu asam amino dapat menurunkan nilai keseluruhan protein dalam pakan. Di sinilah peran formulasi yang presisi, yang mengombinasikan bahan baku seperti fish meal, soybean meal, serta penambahan asam amino kristal untuk menutup kekurangan tertentu. Ketika keseimbangan ini tercapai, kinerja pertumbuhan melonjak dan efisiensi pakan meningkat tanpa meningkatkan beban limbah di kolam.

Peran Pakan Fungsional

Tantangan penyakit pada budidaya udang menjadi lebih sulit karena karakteristik udangnya itu sendiri. Berbeda dengan ikan atau hewan berdarah panas, udang tidak memiliki respons imun spesifik sehingga sulit untuk divaksin. Karena itu, pendekatan nutrisi yang sesuai kebutuhan seperti pakan fungsional menjadi instrumen penting untuk memperkuat ketahanan tubuh udang sejak awal.

Imunostimulan berbasis bakteri, alga, ekstrak hewan, hingga bahan aktif seperti asam organik terbukti meningkatkan respons pertahanan udang terhadap patogen. Probiotik juga memainkan peran penting dalam menjaga kesehatan usus, meningkatkan imunitas, dan menekan populasi bakteri merugikan seperti Vibrio. Ketika bahan-bahan fungsional digabungkan secara sinergis, efeknya jauh lebih nyata: tingkat kelangsungan hidup meningkat, pertumbuhan lebih stabil, dan performa tambak lebih konsisten meski kondisi lingkungan fluktuatif.

Rangkaian inovasi formulasi ini menunjukkan bahwa pakan bukan sekadar sumber energi, tetapi fondasi utama ketahanan dan produktivitas budidaya. Dengan pakan yang stabil, seimbang, dan fungsional, petambak dapat lebih siap menghadapi tekanan musim, kualitas air, penyakit, hingga ketidakpastian pasar. Pada akhirnya, nutrisi yang tepat membantu udang tumbuh lebih baik, mengurangi beban lingkungan, dan memberikan hasil yang lebih menguntungkan bagi petambak.

***
Foto:  ©KKP


 

author

Sakti Biru Indonesia

Shrimp Aquaculture Company