Hatch Blue Kunjungi Tambak Udang SBI dan Produksi Maggot Biocycle

Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya Hatch Blue untuk memperoleh wawasan langsung mengenai perkembangan, potensi, serta tantangan industri budidaya udang di Indonesia

by Sakti Biru Indonesia • Published on March 12, 2026

Sakti Biru Indonesia (SBI) baru-baru ini menerima kunjungan dari Hatch Blue, perusahaan venture capital global yang berfokus pada sektor akuakultur. Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya Hatch Blue untuk memperoleh wawasan langsung mengenai perkembangan, potensi, serta tantangan industri budidaya udang di Indonesia.

Dalam rangkaian kunjungan tersebut, tim Hatch Blue meninjau sejumlah fasilitas produksi yang dikelola oleh SBI serta fasilitas produksi maggot milik Biocycle. Kedua entitas ini merupakan bagian dari ekosistem usaha PT Kedaulatan Pangan Pertiwi (KPP) yang berkomitmen memperkuat sektor produksi pangan berkelanjutan di Indonesia.

Kunjungan lapangan ini mencakup beberapa lokasi operasional SBI di Lombok dan Lampung. Melalui kunjungan tersebut, tim Hatch Blue dapat melihat secara langsung bagaimana kegiatan budidaya udang dijalankan dalam kondisi lingkungan tropis yang sangat mendukung, sekaligus memahami berbagai tantangan operasional yang dihadapi oleh industri ini.

Menavigasi potensi dan tantangan industri udang

Sebagai salah satu produsen udang penting di dunia, Indonesia memiliki pengalaman panjang dalam kegiatan budidaya. Namun demikian, sektor ini juga dihadapkan pada berbagai tantangan biologis dan operasional.

Beberapa penyakit seperti White Feces Disease (WFD), Enterocytozoon hepatopenaei (EHP), serta Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease (AHPND) masih menjadi tekanan yang harus dikelola secara serius oleh para pelaku industri. Jika tidak ditangani dengan baik, kondisi tersebut dapat memengaruhi produktivitas dan keberlanjutan usaha budidaya.

Selain faktor kesehatan udang, pengelolaan kualitas air juga menjadi aspek penting dalam operasional tambak, khususnya di wilayah dengan kepadatan tambak yang tinggi. Banyak lokasi budidaya memanfaatkan sumber air yang sama, sehingga diperlukan manajemen yang disiplin serta pendekatan teknis yang terstruktur untuk menjaga stabilitas lingkungan budidaya.

Di sisi lain, industri udang juga semakin terhubung dengan dinamika pasar global. Berbagai perkembangan seperti perubahan kebijakan tarif perdagangan hingga isu keamanan pangan menjadi faktor yang turut memengaruhi sektor ini. Hal tersebut menegaskan pentingnya praktik produksi yang mampu memenuhi standar pasar internasional.

Pendekatan manajemen produksi terintegrasi

Dalam kunjungan tersebut, tim Hatch Blue berkesempatan meninjau secara langsung pendekatan manajemen produksi yang dikembangkan oleh Sakti Biru Indonesia di berbagai lokasi tambaknya.

SBI terus berupaya menerapkan praktik budidaya terbaik dengan menempatkan kesehatan udang sebagai salah satu pilar utama dalam sistem produksi. Penerapan biosekuriti yang ketat serta pemantauan penyakit secara rutin menjadi bagian dari strategi untuk menjaga stabilitas produksi.

Sebagai bagian dari pendekatan berbasis data, SBI juga memanfaatkan teknologi pengujian penyakit berbasis PCR untuk memantau tekanan patogen di lingkungan tambak. Selain itu, teknologi digital PCR (dPCR) yang dikembangkan oleh Biomed Agritech mulai dimanfaatkan untuk mendukung proses monitoring kesehatan udang secara lebih presisi.

Upaya peningkatan kapasitas sumber daya manusia juga menjadi fokus penting. Melalui program Sakti Academy, SBI mengembangkan berbagai inisiatif penelitian, pelatihan teknis, serta penguatan pemahaman mengenai kesehatan udang dan praktik operasional tambak yang lebih baik.

Beberapa konsep teknologi tambahan, termasuk pengembangan sensor untuk memantau kondisi sistem budidaya, saat ini masih berada pada tahap penelitian dan pengembangan. Inisiatif ini diharapkan dapat membuka peluang baru dalam meningkatkan efisiensi operasional serta memperdalam pemahaman terhadap dinamika ekosistem tambak.

Selain aspek teknis, operasional tambak SBI juga memberikan dampak sosial bagi masyarakat sekitar. Kegiatan budidaya membuka lapangan kerja bagi masyarakat lokal serta menyediakan kesempatan pelatihan praktis di sektor akuakultur. SBI juga mengembangkan model kemitraan dengan petambak skala kecil untuk berbagi pengetahuan dan meningkatkan kapasitas manajemen tambak.

Terbaru, SBI menjalin kerja sama dengan Bank Rakyat Indonesia (BRI) dengan dukungan Bappenas untuk membangkitkan kembali tambak Dipasena. Program ini dilakukan melalui skema kemitraan dan pendampingan produksi, serta dukungan akses pembiayaan bagi petambak skala kecil di kawasan tersebut.

Melalui inisiatif ini, SBI berupaya menghidupkan kembali produktivitas tambak Dipasena yang pernah mencapai masa kejayaan pada era 1990-an, sekaligus meningkatkan kesejahteraan ekonomi para petambak yang menggantungkan hidupnya pada sektor budidaya udang.

Inovasi pakan berkelanjutan melalui Biocycle

Dalam rangkaian kunjungan tersebut, tim Hatch Blue juga meninjau fasilitas produksi maggot milik Biocycle. Perusahaan ini mengembangkan sistem produksi larva Black Soldier Fly (BSF) atau maggot dalam skala industri dengan memanfaatkan limbah organik lokal sebagai bahan baku.

Pendekatan ini menghasilkan sumber protein alternatif yang berpotensi digunakan sebagai bahan baku pakan dalam sektor akuakultur, termasuk pakan udang.

Sejumlah uji coba di lapangan menunjukkan bahwa penggunaan tepung serangga (insect meal) dalam formulasi pakan dapat memberikan manfaat positif, terutama dalam membantu meningkatkan performa serta daya tahan udang selama fase budidaya yang rentan terhadap stres.

Selain menghasilkan bahan pakan, proses produksi juga menghasilkan produk sampingan berupa frass, yaitu residu organik yang kaya nutrisi dan dapat dimanfaatkan sebagai pupuk untuk sektor pertanian. Pemanfaatan kembali produk sampingan ini mendukung terbentuknya sistem ekonomi sirkular yang lebih efisien.

Mendorong masa depan akuakultur berkelanjutan

Kunjungan Hatch Blue memberikan kesempatan untuk berdiskusi dan berbagi perspektif mengenai perkembangan industri akuakultur Indonesia. Kombinasi antara peningkatan standar budidaya, integrasi teknologi, penguatan kapasitas komunitas yang dijalankan SBI, serta inovasi pakan berkelanjutan melalui Biocycle menunjukkan potensi besar bagi masa depan sektor ini.

Melalui berbagai inisiatif tersebut, SBI terus berkomitmen untuk berkontribusi dalam pengembangan industri akuakultur yang lebih tangguh, berkelanjutan, serta mampu mendukung ketahanan pangan jangka panjang.

author

Sakti Biru Indonesia

Shrimp Aquaculture Company