Amonia merupakan salah satu senyawa anorganik yang harus dikendalikan dalam budidaya udang. Senyawa ini secara alami terdapat pada air budidaya, namun memiliki sifat toksik yang dalam kadar tertentu dapat menyebabkan udang menjadi stres, lambat tumbuh, atau bahkan mengalami kematian.
Oleh karena itu, langkah untuk menurunkan amonia di tambak udang wajib dipahami oleh para petambak udang. Petambak juga sebaiknya mengerti mengenai sumber amonia dan variabel yang memengaruhi toksisitasnya agar dapat mengendalikan amonia dengan baik.
Artikel ini akan membahas mengenai senyawa tersebut secara detail serta tata cara untuk menurunkan amonia di tambak udang.
Dampak Amonia pada Udang
Sebelum pembahasan lebih lanjut, petambak udang dapat memahami mengenai “kenapa” zat ini harus dikendalikan.
Paparan amonia memiliki pengaruh negatif terhadap fisiologi udang vaname. Berikut merupakan berbagai dampak amonia pada udang.
Gangguan Respirasi
Menurut studi dari Nan et al. (2024), paparan amonia dapat secara langsung merusak jaringan insang udang. Selain itu, amonia juga terbukti dapat mengurangi daya angkut oksigen di dalam darah udang yang membuat proses respirasi terhambat
Lambat Tumbuh
Amonia juga berdampak pada penurunan nafsu makan udang yang berkaitan erat dengan stres pada udang. Kombinasi dari stres serta berkurangnya nafsu makan tersebut berpengaruh pada laju pertumbuhan yang menurun.
Kematian Massal
Pada dosis tertentu, amonia dapat menyebabkan kematian massal akibat paparan yang terlalu lama dan tidak segera ditangani.
Maka dari itu, pengendalian amonia di tambak udang perlu dilakukan secara konsisten sepanjang siklus budidaya untuk menghindari resiko di atas.
Sumber Amonia di Tambak Udang
Sejatinya, jenis amonia yang memiliki dampak buruk bagi udang adalah senyawa NH3 yang merupakan senyawa amonia yang tidak terionisasi.
Senyawa amonia pada perairan umum disebut sebagai Total Ammonia Nitrogen (TAN) yang terdiri dari NH3 dan NH4 (amonium), senyawa amonia yang tidak berbahaya bagi udang
Kandungan TAN dalam tambak sangat bergantung pada buangan zat nitrogen. Beberapa sumber nitrogen dalam budidaya udang antara lain:
Sisa pakan
Buangan metabolisme udang
Hasil dekomposisi jasad organisme
Serta, pupuk yang mengandung nitrogen
Data dari The Fish Site menyebutkan bahwa hanya sekitar 22% pakan yang diberikan pada udang yang akan diubah menjadi daging atau biomassa. Sekitar 57% akan terbuang ke air dalam bentuk hasil metabolisme. Udang vaname akan mengeluarkan buangan metabolisme melalui insang, urin, dan feses.
Pakan yang tidak termakan akan berkontribusi langsung pada buangan nitrogen, terutama pada dasar tambak.
Selain itu, pupuk dengan kandungan nitrogen yang tinggi, seperti urea, juga perlu diberikan dalam dosis yang terkontrol agar tidak berubah menjadi amonia.
Toksisitas Bergantung pada Suhu & pH
Kadar toksisitas TAN bagi udang ini bergantung dari persentase NH3 dan NH4, yang di mana, kadar kedua senyawa ini dipengaruhi oleh suhu dan pH.
Ketika suhu dan pH naik, kadar NH3 cenderung ikut naik dan menyebabkan paparan negatif pada udang. Sebaliknya, jika suhu dan pH turun, maka kadar NH4 akan naik.
Dany Yukasano, National Technical Grobest Indomakmur, dalam laporannya pada rubrik “Kelola Hujan Ekstrem di Tambak ‘Rapuh’” pada Info Akuakultur edisi 132 menekankan pengukuran pH secara rutin sebagai langkah dalam mengendalikan amonia di tambak udang.
“Sangat banyak tambak yang tidak punya pH meter, padahal nilai pH mempengaruhi fraksi beracun amonia,” pernyataan Dany.
Aspek ini perlu diamati terutama pada siang hari saat nilai pH cenderung naik dan dapat melonjakkan kandungan NH3 di tambak udang.
Apakah Tambak Sudah Tinggi Amonia?
Berbagai indikator yang menjadi tanda amonia tinggi di tambak yang perlu diwaspadai antara lain:
1. Air tambak yang terlihat keruh yang menandakan akumulasi bahan organik
2. Air tambak yang mulai menimbulkan bau
3. Gejala udang yang mulai stres seperti melompat dari air
Selain itu, kadar amonia juga dapat diukur secara langsung dengan alat ukur khusus yang diiringi dengan pengukuran pH.
Berbagai sumber menyebutkan bahwa kadar amonia yang ideal di tambak udang tidak lebih dari 0,1 ppm.
Cara Menurunkan Amonia di Tambak Udang
Strategi pengendalian amonia di tambak perlu dilakukan konsisten sepanjang siklus budidaya, terutama jika air tambak telah terindikasi memiliki kandungan NH3 yang tinggi.
Berikut merupakan berbagai langkah untuk menurunkan amonia di tambak udang yang aplikatif dalam rentang waktu harian dan mingguan
Harian:
a. Mengontrol pemberian pakan sesuai dengan perhitungan yang ditetapkan
b. Memantau pH dan suhu air, terutama siang hari
c. Memantau kepadatan fitoplankton agar tidak terjadi lonjakan pH
Mingguan:
a. Pemberian probiotik amonia tambak untuk membantu penguraian kadar amonia
b. Menghitung pemberian pakan sesuai dengan hasil sampling pada anco
c. Melakukan pergantian air secara rutin
d. Pemberian kapur untuk menjaga kestabilan pH (buffer)
Salah satu cara menghilangkan amonia di tambak udang adalah dengan pemberian probiotik yang mampu membantu proses nitrifikasi serta penguraian bahan organik dan sisa pakan.
Langkah tersebut dapat diiringi dengan pemantauan pH serta kontrol pemberian pakan yang terukur.

Probiotik Booster untuk Menurunkan Amonia di Tambak
Probiotik yang direkomendasikan dalam cara menghilangkan amonia di tambak udang adalah Booster-A dan Booster-M oleh Sakti Biru Indonesia.
Probiotik Booster-A dan Booster-M memiliki berbagai manfaat antara lain:
Menjaga keseimbangan pH dan oksigen terlarut
Menekan bahan organik di tambak udang
Mengurangi kadar amonia dan nitrit
Serta meningkatkan kecerahan air
Penggunaan probiotik Booster-A menjadi solusi terbaik untuk mengendalikan amonia di tambak udang melalui pengelolaan kualitas air serta aplikasi probiotik pada pakan.
Probiotik Booster-A dan Booster-M bisa Anda dapatkan melalui nomor Whatsapp resmi Sakti Biru Indonesia: +62 895 4065 30178